Abraham Paul Liyanto; Siap Wujudkan Mimpi Bidan dan Perawat
Senator asal Nusa Tenggara Timur (NTT) empat periode Abraham Paul Liyanto dalam resesnya Rabu – Kamis (24-25 Juni 2026) di Aula Kampus Universitas Citra Bangsa (UCB) Menyatakan selalu berpihak pada sektor pendidikan dan Kesehatan termasuk perawat dan bidan. Dihadapan ratusan peserta dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI) NTT dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) NTT ia menyatakan akan selalu memperjuangkan hak profesi yang bekerja di garda terdepan ini. “Saya membangun sekolah kesehatan yang mendidik tenaga bidan dan perawat, jadi Saya sedikit paham bagaimana pekerjaan Bapa Ibu di lapangan. Oleh sebab itu Saya terus memperjuangkan hak Bapa Ibu sekalian, termasuk memperjuangkan lahirnya undang-undang keperawatan beberapa tahun yang lalu”. Jelas Liyanto.
Beberapa hal lain juga dijelaskan dalam sesi ini anatara lain; Pemerataan pembangunan daerah sejalan dengan pemerataan layanan kesehatan, sehingga masyarakat di wilayah terpencil, kepulauan, dan perbatasan NTT memperoleh akses kesehatan yang setara. Perawat merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dalam mendukung implementasi UU Kesehatan, terutama pada layanan kesehatan primer di daerah yang kekurangan tenaga kesehatan. Peningkatan infrastruktur daerah seperti jalan, transportasi, listrik, dan internet akan mempermudah akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan dan mendukung pelayanan perawat. Penguatan kualitas SDM kesehatan menjadi prioritas UU No. 17 Tahun 2023 melalui peningkatan kompetensi, pelatihan, dan pengembangan profesional berkelanjutan bagi perawat. Transformasi layanan kesehatan primer menempatkan perawat sebagai pelaksana utama upaya promotif dan preventif, termasuk penanganan stunting, kesehatan ibu dan anak, serta penyakit menular. Sinergi pemerintah pusat dan daerah diperlukan untuk memastikan distribusi tenaga kesehatan, pendanaan, dan program kesehatan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat NTT.
Selain itu ada banyak juga harapan dari peserta yang hadir terutama para bidan dan perawat yang bekerja di fasilitas Kesehatan baik di Kabupaten maupun kota kupang antara lain; persoalan P3K paruh waktu, sertifikasi Ners dan Bidan seperti halnya guru dan dosen serta beban kerja perawat dan bidan.
Ns Lusia Dalong S.Kep salah satu PNS Kabupaten Kupang mengharapkan agar ada pemertaan tenaga di pelosok. “ Puskesmas terpencil tidak punya tenaga dokter, dan semua tugas dijalankan oleh tenaga perawat. Hal ini membuat beban kerja kami menjadi sangat berat. Harapannya ada pemerataan tenaga dokter di pelosok dan kami yakin UCB sudah punya kedokteran dan dapat mengatasi masalah ini”. Jelas Lusia yang juga alumni dari UCB yang disambut dengan tepukan tangan para peserta.
Pada kesempatan ini juga dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UCB Ns. Sakti Oktaria Batubara S.Kep.,M.Kep.,PhD menjelaskan UCB telah siap membantu para bidan dan perawat untuk melanjutkan study. “Berkat Bapak Paul Liyanto yang juga menjadi ketua Pembina Yayasan CBIM, Kita telah membuka kesempatan kepada teman-teman perawat dan bidan untuk melanjutkan study D3 ke S1 dan Profesi. Teman-teman bisa tetap bekerja nanti dosen yang akan ke tempat Bapa Ibu. Semua ini untuk mempercepat peningkatan kompetensi dan jenjang Pendidikan sesuai perintah undang undang”. Jelas Okta.
Semua usulan dalam diskusi dicatat oleh staf ahli DPD dan akan diperjuangkan di pusat.
Pada intinya; pembangunan kesehatan yang berkualitas hanya dapat terwujud apabila tenaga kesehatan tidak hanya dituntut untuk profesional, tetapi juga memperoleh dukungan, perlindungan, dan penghargaan yang layak sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan yang prima di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur.
Hadir dalam kegiatan ini ketua PPNI Kota Kupang Ns. Agustinus Ara,S.Kep ketua PPNI Kabupaten Kupang Ns. Awaliyah M. Suwetty, S.Kep., Ns., M.Kep, juga Wakil Rektor III UCB Jhon Einstein, S.pd M.cs, Kepala LP3M UCB Vinsensius Belawa Lemaking SKM.,M.Kes, Dekan FIkes UCB Ns. Sakti Oktaria Batubara S.Kep.,M.Kep.,PhD, dan Ketua Program Studi Ners UCB Ns. Yohanes Dion.,S.Kep.M.Kes