Paul Liyanto Minta Peserta Neopro UCB Implemantasikan Pilar Kebangsaan

 

Ketua Dewan Pembina Yayasan Citra Bina Insan Mandiri (CBIM) yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Abraham Paul Liyanto, menegaskan pentingnya menjaga dan mengimplementasikan nilai-nilai 4 Pilar Kebangsaan demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Pondasi utama bangsa yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika ini harus terus tertanam kuat di sanubari generasi muda agar Indonesia tidak runtuh di masa depan. 

Hal itu disampaikan Senator asal NTT ini saat memberikan materi Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kepada para mahasiswa baru peserta Neopro 2026 atau Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Senin (31/8/2026). 

Paul Liyanto mengingatkan para mahasiswa untuk waspada terhadap adanya pihak-pihak tertentu yang ingin mengganti ideologi Pancasila. Ia menyoroti fenomena adanya sejumlah mahasiswa dari Sumatra yang sempat terpengaruh dan ingin mengubah ideologi negara menjadi Khilafah. 

"Mahasiswa sekarang, dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, akan menjadi pemimpin negara ini. Karena itu, kalau ideologi Pancasila dianggap remeh, maka ke depan negara Indonesia bisa runtuh. Jangan sampai terpengaruh oleh orang yang mau berkuasa dengan membawa agama dan merubah ideologi," tegas Paul. 

Ia menambahkan bahwa mahasiswa 

sebagai generasi milenial harus paham betul sejarah dan alasan mengapa negara Indonesia itu ada. Di era digital saat ini, tantangan ideologi makin berat karena derasnya arus informasi dari luar yang diakses melalui gadget dan media sosial. 

"Kalau mendapat informasi yang sesat terkait dengan ideologi lain dan informasi itu tidak diluruskan, maka ke depan negara Indonesia bisa bubar," ujarnya mengingatkan pentingnya menyaring informasi. 

 

Sejarah Pancasila 

Di hadapan seribuan mahasiswa UCB, Paul juga mengulas kembali sejarah lahirnya Pancasila yang memiliki ikatan historis kuat dengan bumi NTT, tepatnya di Kabupaten Ende. Pancasila merupakan buah dari permenungan mendalam Bung Karno saat diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda. 

Ia mengisahkan bagaimana dinamika penyusunan sila pertama Pancasila, yang awalnya berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Bunyi tersebut kemudian diubah demi menjaga persatuan bangsa setelah adanya protes dari tokoh perwakilan dari Indonesia bagian Timur. 

"Ini menjadi bukti bahwa kita sangat demokratis. Protes dari satu perwakilan langsung direspons dengan bijak oleh para pemimpin bangsa saat itu," kata Paul. 

Selain Pancasila, Paul juga memaparkan pilar kedua yaitu UUD 1945 sebagai dasar konstitusi negara Indonesia yang tercatat telah mengalami empat kali perubahan atau amandemen untuk menyesuaikan perkembangan zaman. 

Ia menekankan bahwa semua pilar ini mengikat Indonesia sebagai negara besar yang sangat kaya akan keberagaman suku, bahasa, dan agama, namun tetap satu di bawah naungan NKRI 

Sosialisasi tersebut juga barengi adanya kuis bagi perserta Neopro 2026. Dimana peserta yang bisa menjawab secara tepat pertanyaan yang diajukan oleh Paul Liyanto langsung diberikan hadiah berupa tas dan buku. 

 

Bantu Korban Gempa 

 

Diawal sosialisasi Paul Liyanto menyampaikan rasa berbelasungkawa terhadap korban gempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu. 

Dimana sebagai bentuk simpati pihaknya mendonasikan bantuan secara pribadi termasuk mengajak semua pengurus yayasan CBIM termasuk civitas akademika UCB Kupang untuk turut memberikan donasi. 

Penggalangan donasi ini nantinya akan langsung diantarkan ke lokasi korban gempa di Flores. (*) 

tags:
Kategori